Author Archives: PUSAT TERAPI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Sindrom Asperger Menurut skala Australia is reprinted by permission of Tony Attwood, PhD. This is an excerpt from his book ASPERGER’S SYNDROME: A GUIDE FOR PARENTS AND PROFESSIONALS.

Sindrom Asperger

Menurut skala Australia is reprinted by permission of  Tony Attwood, PhD.

This is an excerpt from his book ASPERGER’S SYNDROME: A GUIDE FOR PARENTS AND PROFESSIONALS.


Kuesioner berikut ini di dibuat untuk mengidentifikasi perilaku dan kemampuan dari Asperger Sindrom pada anak-anak usia sekolah dasar yang merupakan saat dimana pola perilaku dan kemampuan mereka dapat dengan jelas dapat diamati.  Masing-masing pertanyaan berikut memiliki peringkat skor dimulai dari angka nol (0) atau sama dengan tingkat rata-rata dari anak normal:

0=jarang(jrg),dan6=sering

Kuesioner:
KEMAMPUAN SOSIAL DAN EMOSIONAL

    1. Apakah anak tersebut kurang memiliki pemahaman mengenai bagaimana cara bermain dengan anak lain?  Contohnya, tidak menyadari akan adanya aturan permainan yang tak tertulis?|0|1|2|3|4|5|6|
    2. Jikalau sedang bebas bermain dengan anak lain, saat makan siang di sekolah, apakah anak tersebut menolak melakukan kontak sosial dengan anak lain? Misalnya, ia lebih suka memilih tempat yang sunyi atau pergi ke ruang perpustakaan? |0|1|2|3|4|5|6|
    3. Apakah anak tersebut tampaknya tidak menyadari akan kebiasaan sosial atau tata cara bertingkah laku lalu melakukan tindakan dan memberikan komentar-komentar yang tidak pada tempatnya? Contohnya, dia melontarkan suatu komentar pribadi kepada seseorang, sedangkan dia sendiri tampaknya tidak sadar bahwa ucapannya itu akan membuat orang lain marah?|0|1|2|3|4|5|6|
    4. Apakah anak tersebut biasanya mengharapkan orang lain mengerti perasaan-perasaan, pengalaman dan pendapat-pendapat mereka? Misalnya dia, tidak menyadari bahwa kita tidak dapat mengetahui hal tersebut karena pada saat itu kita tidak berada disamping dia?.|0|1|2|3|4|5|6|
    5. Apakah anak tersebut perlu selalu diyakinkan kembali, terutama ketika ada perubahan atau jika terjadi sesuatu kesalahan? |0|1|2|3|4|5|6|
    6. Apakah anak tersebut tidak dapat mengekpresikan pengalaman-pengalaman emosionalnya? Contohnya, anak tersebut memberikan reaksi tertekan atau mengasihi yang tidak sesuai dengan suatu situasi/keadaan ?|0|1|2|3|4|5|6|
    7. Apakah anak tersebut kurang memiliki kemampuan dalam mengexpresikan emosinya? |0|1|2|3|4|5|6|
    8. Apakah anak tersebut tidak berminat untuk ikut serta dalam pertandingan olah raga, permainan dan aktivitas lainnya?. Angka nol (0) berarti anak tersebut menyukai pertandingan olah raga.|0|1|2|3|4|5|6|
    9. Apakah anak tersebut berbeda terhadap trend anak sekarang atau tekanan teman? Angka nol (0) berarti bahwa anak tersebut tergila gila trend. Contohnya, anak tidak menuruti trend mutakhir dalam memilih mainan atau baju-baju?|0|1|2|3|4|5|6|

B: KEMAMPUAN BERKOMUNIKASI

    1. Apakah anak tersebut kurang menerima secara harafiah suatu penjelasan dari suatu kritik? Misalnya ia menjadi bingung mengartikan idiom seperti ‘pull your socks up – berusahalah’, atau ‘looks can kill – pandangan yang mematikan’ atau ‘hop on the scales – melompat lebih tinggi’ ?|0|1|2|3|4|5|6|
    2. Apakah anak tersebut memiliki nada suara yang tidak biasa? Misalnya, anak tersebut memiliki tekanan suara yang terdengar asing di telinga atau suaranya membosankan, atau tidak ada tekanan pada kata-kata kunci/utama?|0|1|2|3|4|5|6|
    3. Pada saat berbicara apakah anak tersebut cenderung jarang memandang lawan bicaranya sebagaimana kita harapkan? |0|1|2|3|4|5|6|
    4. Apakah anak tersebut berbicara terlalu teliti atau memperlihatkan pengetahuannya, misalnya cara berbicaranya terlalu formal atau mirip kamus berjalan?|0|1|2|3|4|5|6|
    5. Apakah anak tersebut punya masalah dalam memperbaiki suatu percakapan? Contohnya jika kebingungan mereka (perempuan atau laki-laki) tidak meminta penjelasan namun hanya beralih pada suatu topik yang mereka kenal atau perlu waktu lama untuk mencari jawabannya.|0|1|2|3|4|5|6|

C. KEMAMPUAN PENGENALAN/KOGNITIF

    1. Apakah anak tersebut membaca buku khusus untuk mencari informasi, dan tidak tertarik pada bacaan fiksi? Misalnya anak tersebut gemar membaca buku ensiklopedi atau buku ilmu pengetahuan, namun tidak senang dengan buku cerita tentang petualangan.|0|1|2|3|4|5|6|
    2. Apakah anak tersebut memiliki daya ingat yang kuat mengenai sesuatu kejadian atau fakta? Misalnya mampu mengingat nomor plat mobil milik tetangga yang dilihatnya beberapa tahun lalu, atau dengan mudah dapat mengingat kembali suatu kejadian beberapa tahun yang lalu.|0|1|2|3|4|5|6|
    3. Apakah anak tersebut kurang memiliki imajinasi sosial, misalnya tidak mengikut sertakan anak-anak lain dalam permainan imajinasinya atau dia menjadi bingung ketika ikut serta dalam permainan berpura-pura dengan anak lain.|0|1|2|3|4|5|6|

D. MINAT KHUSUS

    1. Apakah anak tersebut merasa kagum pada suatu topik khusus dan kemudian gemar mengumpulkan informasi atau statistik mengenai topik tersebut? Misalnya anak tersebut berubah menjadi ensiklopedi berjalan, punya pengetahuan mengenai kendaraan, peta-peta ataupun table liga sepak bola.|0|1|2|3|4|5|6|
    2. Apakah anak tersebut menjadi marah atau kecewa berlebihan karena adanya suatu perubahan dari keadaan biasanya, atau terjadi perubahan di luar harapannya? Misalnya: dia kesal jika pergi ke sekolah melewati rute perjalanan yang lain dari biasanya.|0|1|2|3|4|5|6|
    3. Apakah anak tersebut mengerjakan (mengembangkan) suatu rutinitas atau ritual yang harus diselesaikan? Umpamanya menempatkan mainannya dengan sejajar sebelum pergi tidur.|0|1|2|3|4|5|6|

E. KELINCAHAN DALAM BERGERAK

    1. Apakah anak tersebut memiliki koordinasi motorik yang lemah? Misalnya kurang cepat menangkap bola.< |0|1|2|3|4|5|6|
    2. Apakah anak tersebut berlari dengan cara yang aneh?|0|1|2|3|4|5|6|

F. KARAKTER / SIFAT LAIN

Untuk bagian ini, beri tanda silang jika anak menunjukkan tanda-tanda yang dapat memperlihatkan sifat mereka seperti dibawah ini:

  1. Memperlihatkan ketakutan yang luar biasa karena:
    • Kesal bila mendengar suara-suara yang biasa misalnya bunyi alat-alat rumah tangga dari listrik. [_]
    • Menyentuh kulit atau kulit kepala, [_]
    • Memakai pakaian khusus, [_]
    • Suara berisik yang tiba-tiba,[_]
    • Melihat sesuatu obyek/barang, [_]
    • Kebisingan, berada di suatu tempat yang bising misalnya supermarket [_]
    • Cenderung gemetar atau kaku bila sedang dilanda kegembiraan atau suatu kekesalan[_]
    • Kurang sensitif terhadap tingkat rasa sakit yang rendah. [_]
    • Lamban dalam menjawab pertanyaan [_]
    • Memperlihatkan mimik wajah yang aneh/lucu [_]

 

 

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Patterning Therapi untuk anak-anak berkebutuhan khusus

Materi Enrichment
Pusat Therapi Rumah Grahita
Lampung 2010
PATTERNING THERAPI
A. PENDAHULUAN.
Patterning therapy adalah suatu bentuk upaya mem”pola”kan (patterning) gerakan-gerakan motorik yang bertujuan untuk mengoptimalkan fungsi-fungsi dalam otak yang mengalami cedera atau kerusakan agar dapat berfungsi kembali secara mandiri.
B. SEL OTAK MANUSIA
Perkembangan otak dimulai dari sejak janin berusia 4 bulan sampai umur 2 tahun. Laju perkembangan otak yang sangat cepat ini dapat terlihat dari adanya penambahan berat otak janin usia 4 bulan yaitu 50 gram menjadi 400 gram pada waktu lahir dan akan berkembang menjadi 1000 gram pada usia 18 bulan. Sel otak manusia mengandung bermilyar-milyar sel otak (neuron) yang akan terus tumbuh sampai usia 2 tahun. Setelah usia 2 tahun sel akan terus berkembang “nerve cell connection”. Otak adalah bukan organ yang statis tetapi dinamis yang senantiasa tumbuh dan berkembang membentuk “nerve cell connection” yang baru. Pertumbuhan jaringan antar sel ini dipengaruhi oleh rangsangan dari lingkungannya. C. NEUROGENESIS Neurogenesis adalah pertumbuhan sel neuron baru. Paradigma lama mengatakan bahwa otak memproduksi sel neuron baru sampai umur 2 tahun, oleh karena itu sering dikenal dengan istilah “golden age”karena pada periode pertumbuhan otak ini berpeluang memberikaan modal jumlah sel otak pada anak. Paradigma baru mengatakaan bahwa ternyata sel neuron dapat terus tumbuh sampai usia berapapun. Oleh karena itu upaya optimalisasi potensi otak seolah tidak terbatas. Umur berapapun, stimulasi pada anak akan memberikan kontribusi pada peningkatan kecerdasannya. D. CEDERA OTAK (BRAIN DAMAGE) Anak dengan cedera otak akan mengalami gangguan pada satu atau beberapa fungsi sensori dan atau gangguan fungsi motorik. Untuk mengetahui bagian mana dari otak yang cedera dan sejauh mana berat ringannya cedera perlu dilakukan pemeriksaan klinis (Clinical Asessment). Gambaran beberapa keadaan cedera otak yang umum dikenal adalah kerusakan otak, keterbelakangan mental (mental retarded), cerebral palsy, epilepsi, Autisme, ADHD, ADD, down syndrome.
Materi Enrichment
Pusat Therapi Rumah Grahita
Lampung 2010
E. PENYEBAB CEDERA OTAK Cedera otak dapat terjadi kapan saja, saat pembuahan, saat pertumbuhan dalam kandungan, saat lahir atau setelah lahir sampai saat dewasa. Cedera otak disebabkan oleh :
1. Cedera otak akut akibat trauma kepala, radang otak
2. Malformasi atau kelainan bentuk otak (genetika/kromosom)
3. Gangguan neurodegenerative : penyakit yang merusak sel-sel otak secara progresif
E. ALTERNATIF PENATALAKSANAAN PENANGANAN CEDERA OTAK Patterning therapy merupakan alternatif penanganan yang dapat diberikan pada keadaan cedera otak. Manusia melewati 5 tahapan perkembangan (motorik development) yaitu :
 Pada bayi baru lahir dapat menggerakkan anggota tubuh, namun tidak dapat berpindah tempat (movement without mobility).
 Bayi belajar bergerak dengan lengan dan tungkainya dengan perut yang menempel pada lantai yang disebut dengan merayap (crawling).
 Bayi belajar menentang gravitasi dengan bergerak menggunakan tangan dan lututnya yang disebut dengan merangkak (creeping).
 Bayi belajar bangkit dengan tungkai bawah dan berjalan, disebut berjalan (walking).
 Bayi mulai mempercepat jalannya, berlari (running). Keseimbangan dan koordinasi anak bertambah baik,, sehingga anak seolah-olah terbang (flies).
Urutan tahap-tahap perkembangan yang hilang atau terlewati akan mengakibatkan terjadinya masalah. Ada empat tingkat perkembangan otak yang esensial dan penting yaitu terbentuknya area dalam otak yang memiliki fungsi-fungi tertentu yaitu :
1. Terbentuknya batang otak awal dan sumsum tulang belakang.
Akar otak ini mengatur fungsi-fungi dasar kehidupan seperti bernafas dan metabolisme , juga mengendalikan reaksi dan gerakan dengan pola yang sama. Dari akar yang paling primitif ini terbentuklah pusat emosi (akan dibahas dalam makalah yang lain). Area ini berkaitan dengan fungsi menggerakkan badan, lengan, tungkai tanpa berpindah tempat.
Materi Enrichment
Pusat Therapi Rumah Grahita
Lampung 2010
2. Terbentuknya batang otak dan area sub kortikal awal. Tingkat ini berfungsi untuk merayap dengan perut (reptil).
3. Terbentuknya otak tengah dan area sub kortikal, area ini merupakan area fungsional termasuk ganglia basal, thalamus, otak kecil. Tingkat ini berfungsi untuk merangkak (Aligator).
4. Terbentuknya korteks yang merupakan puncak otak, yang berkaitan dengan fungsi pergerakan motorik yang lebih kompleks yaitu berjalan berlari.
Pada korteks terdapat 6 fungsi yaitu : Kemampuan berjalan tegak Kemampuan identifikasi objek dengan perabaan Kemampuan untuk memahami bahasa verbal Kemampuan berbicara Kemampuan membaca Kemampuan untuk menjepit objek dengan ibu jari dan telunjuk sehingga anak mampu untuk menulis.
Penatalaksanaan patterning therapy. Mempolakan gerakan. Gerakan pola satu sisi (homolateral) dan gerakan pola dua sisi (heterolateral). (Gambar terlampir). Apabila cedera otak terdapat pada area otak tengah dan subkortikal dapat ditambahkan dengan merangkak. Bila cedera ada pada batang otak dan area subkortikal awal ditambahkan gerakan merayap. Perlu diberikan program untuk dilakukan dengan prinsip sebagai berikut :
1. Semua anak yang belum bisa berjalan, setiap hari merayap dengan perut dan merangkak
2. Semua anak diberikan pola gerakan tertentu, bila perlu dengan bantuan
3. Anak dengan gangguan sensoris, diberikan stimulasi sensoris (dibahas pada makalah Integrasi Sensoris).
4. Anak yang ambidekstral ; masih menggunakan kedua tangannya untuk aktivitas dapat diberikan program untuk menetapkan dominasi hemispher.
Perlu diingat bahwa keberhasilan therapi ini tergantung pada frekuensi, intensitas dan lamanya program yang dilakukan .

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

DETEKSI DINI ADHD (ATTENTION DEFICIT HYPERACTIVE DISORDERS) Dr Widodo Judarwanto SpA,

Pendahuluan

Sejak dua puluh tahun terakhir Gangguan Pemusatan Perhatian ini sering disebut sebagai ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorders. Gangguan ini ditandai dengan adanya ketidakmampuan anak untuk memusatkan perhatiannya pada sesuatu yang dihadapi, sehingga rentang perhatiannya sangat singkat waktunya dibandingkan anak lain yang seusia, Biasanya disertai dengan gejala hiperaktif dan tingkah laku yang impulsif. Kelainan ini dapat mengganggu perkembangan anak dalam hal kognitif, perilaku, sosialisasi maupun komunikasi.
Gangguan hiperaktif merupakan salah satu kelainan yang sering dijumpai pada gangguan perilaku pada anak. Dalam tahun terakhir ini gangguan hiperaktif menjadi masalah yang menjadi sorotan dan menjadi perhatian utama di kalangan medis ataupun di masyarakat umum.. Angka kejadian kelainan ini adalah sekitar 3 – 10%, di Ameriksa serikat sekitar 3-7% sedangkan di negara Jerman, Kanada dan Selandia Baru sekitar 5-10%. Diagnosis and Statistic Manual (DSM IV) menyebutkan prevalensi kejadian ADHD pada anak usia sekolah berkisar antara 3 hingga 5 persen. Di indonesia angka kejadiannya masih belum angka yang pasti, meskipujh tampaknya kelainan ini tampak cukup banyak terjadi. Terkadang seorang anak hanya dianggap ‘nakal’ atau ‘bandel’ dan ‘bodoh’, sehingga seringkali tidak ditangani secara benar, seperti dengan kekerasan yang dilakukan oleh orang tua dan guru akibat dari kurangnya pengertian dan pemahaman tentang ADHD. Terdapat kecenderungan lebih sering pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Secara epidemiologis rasio kejadian dengan perbandingan 4 : 1. Namun tampaknya semakin lama tampaknya kejadiannya semakin meningkat saja. Sering dijumpai pada anak usia pra sekolah dan usia sekolah, terdapat kecenderungan keluhan ini akan berkurang setelah usia Sekolah Dasar. Meskipun tak jarang beberapa manifestasi klinis tersebut dijumpai pada remaja atau orang dewasa. ADHD adalah gangguan perkembangan yang mempunyai onset gejala sebelum usia 7 tahun. Setelah usia anak, akan menetap saat remaja atau dewasa. Diperkirakan penderita ADHD akan menetap sekitar 15-20% saat dewasa. Sekitar 65% akan mengalami gejala sisa saat usia dewasa atau kadang secara perlahan menghilang. Angka kejadianADHD saat usia dewasa sekitar 2-7%. Predisposisi kelainan ini adalah 25 persen pada keluarga dengan orang tua yang membakat.
Deteksi dini gangguan ini sangat penting dilakukan untuk meminimalkan gejala dan akibat yang ditimbulkannya dikemudian hari. Hal ini harus melibatkan beberapa lapisan masyarakat. Baik dikalangan medis maupun nonmedis. Dokter umum, dokter spesialis anak dan klinisi lainnya yang berkaitan dengan kesehatn anak harus bisa mendeteksi sejak dini faktor resiko dan gejala yang terjadi. Manifestasi klinis yang terjadi dapat timbul pada usia dini namun gejalanya akan tampak nyata pada saat mulai sekolah melakukan anamnesa terhadap orang tua dan guru, guna mengevaluasi perkembangan dan mengarahkan pola pendidikan dan pengasuhan anak dengan hiperaktif bila dapat dilakukan deteksi dini dan penatalaksanaan pada tahap awal.

DEFINISI

Pada anak normal seringkali menunjukkan tanda-tanda: kurang perhatian, mudah teralihkan perhatiannya, emosi yang meledak-ledak bahkan aktifitas yang berlebihan. Hanya saja pada anak dengan kelainan ADHD, gejala-gejala ini lebih sering muncul dan lebih berat kualitasnya dibandingkan anak normal seusianya.
Pola perhatian anak terhadap suatu hal terbagi menjadi beberapa klasifikasi. Kelompok yang paling berat adalah over exklusif dimana seorang anak hanya terfokus pada sesuatu yang menarik perhatiannya tanpa mempedulikan hal lain secara ekstrem (misalnya pada bayi yang sedang memperhatikan kancing bajunya dan tidak mempedulikan rangsangan lain), pola ini disebut autisme. Kelompok dengan derajat sedang terjadi fokus perhatian anak mudah teralihkan. Perhatian hanya mampu bertahan beberapa saat saja oleh suatu rangsangan lain yang mungkin tidak adekuat. Hal ini dinamakan kesulitan perhatian (attention deficit hyperactivity disorder). Kondisi normal adalah pola yang paling baik karena anak mampu memperhatikan sesuatu dan mengalihkannya terhadap yang lain pada saat yang tepat tanpa kehilangan daya konsentrasi, pola ini merupakan pola normal perkembangan mental anak secara matang.
Definisi hiperaktifitas adalah suatu peningkatan aktifitas motorik hingga pada tingkatan tertentu yang menyebabkan gangguan perilaku yang terjadi, setidaknya pada dua tempat dan suasana yang berbeda. Aktifitas anak yang tidak lazim dan cenderung berlebihan yang ditandai dengan gangguan perasaan gelisah, selalu menggerak-gerakkan jari-jari tangan, kaki, pensil, tidak dapat duduk dengan tenang dan selalu meninggalkan tempat duduknya meskipun pada saat dimana dia seharusnya duduk degan tenang.. Terminologi lain yang dipakai mencakup beberapa kelainan perilaku meliputi : perasaan yang meletup-letup, aktifitas yang berlebihan, suka membuat keributan, membangkang dan destruktif yang menetap.
Temperamen seorang anak adalah suatu karakteristik yang hidup dan dinamis, meski terkadang pada seorang anak lebih dinamis dibandingkan anak lain. Bila terjadi peningkatan aktifitas motorik yang berlebihan pada seorang anak dibandingkan anak lain sebayanya, maka sering kali ‘si-anak’ dikeluhkan sebagai hiperaktif oleh orang tuanya. Penilaian semacam ini sangat subyektif dan tergantung dari standar yang dipakai oleh orang tua dalam menilai tingkat aktifitas normal seorang anak. Anggapan bahwa si-anak ‘hiperaktif’ mungkin tidak tepat jika hanya karena si-anak menunjukkan tanda-tanda ‘nakal’ dan ‘bikin ribut’ pada saat tertentu tetapi secara keseluruhan menunjukkan aktifitas yang normal. Dalam hal ‘anak-ini’ justru kepada orang tuanya yang harus diberikan pengertian dan pengetahuan tentang bagaimana membimbing dan mengarahkan secara benar seorang anak dengan pola perilaku yang ‘menurut orang tua’ berlebihan

PENYEBAB
Penyebab pasti dan patologi ADHD masih belum terungkap secara jelas. Seperti halnya gangguan autism, ADHD merupakan statu kelainan yang bersifat multi faktorial. Banyak faktor yang dianggap sebagai peneyebab gangguan ini, diantaranya adalah faktor genetik, perkembangan otak saat kehamilan, perkembangan otak saat perinatal, tingkat kecerdasan (IQ), terjadinya disfungsi metabolisme, ketidak teraturan hormonal, lingkungan fisik, sosial dan pola pengasuhan anak oleh orang tua, guru dan orang-orang yang berpengaruh di sekitarnya.
Banyak penelitian menunjukkan efektifitas pengobatan dengan psychostimulants, yang memfasilitasi pengeluaran dopamine dan noradrenergic tricyclics. Kondisi ini mengungatkan sepukalsi adanya gangguan area otak yang dikaitkan dengan kekuirangan neurotransmitter. Sehingga neurotransmitters dopamine and norepinephrine sering diokaitkan dengan ADHD..
Faktor genetik tampaknya memegang peranan terbesar terjadinya gangguan perilaku ADHD. Beberapa penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa hiperaktifitas yang terjadi pada seorang anak selalu disertai adanya riwayat gangguan yang sama dalam keluarga setidaknya satu orang dalam keluarga dekat. Didapatkan juga sepertiga ayah penderita hiperaktif juga menderita gangguan yang sama pada masa kanak mereka. Orang tua dan saudara penderita ADHD mengalami resiko 2-8 kali lebih mudah terjadi ADHD, kembar monozygotic lebih mudah terjadi ADHD dibandingkan kembar dizygotic juga menunjukkan keterlibatan fator genetik di dalam gangguan ADHD. Keterlibatan genetik dan kromosom memang masih belum diketahui secara pasti. Beberapa gen yang berkaitan dengan kode reseptor dopamine dan produksi serotonin, termasuk DRD4, DRD5, DAT, DBH, 5-HTT, dan 5-HTR1B, banyak dikaitkan dengan ADHD.
Penelitian neuropsikologi menunjukkkan kortek frontal dan sirkuit yang menghubungkan fungsi eksekutif bangsal ganglia. Katekolamin adalah fungsi neurotransmitter utama yang berkaitan dengan fungsi otak lobus frontalis. Sehingga dopaminergic dan noradrenergic neurotransmission tampaknya merupakan target utama dalam pengobatan ADHD.
Teori lain menyebutkan kemungkinan adanya disfungsi sirkuit neuron di otak yang dipengaruhi oleh dopamin sebagai neurotransmitter pencetus gerakan dan sebagai kontrol aktifitas diri. Akibat gangguan otak yang minimal, yang menyebabkan terjadinya hambatan pada sistem kontrol perilaku anak. Dalam penelitian yang dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan MRI didapatkan gambaran disfungsi otak di daerah mesial kanan prefrontal dan striae subcortical yang mengimplikasikan terjadinya hambatan terhadap respon-respon yang tidak relefan dan fungsi-fungsi tertentu. Pada penderita ADHD terdapat kelemahan aktifitas otak bagian korteks prefrontal kanan bawah dan kaudatus kiri yang berkaitan dengan pengaruh keterlambatan waktu terhadap respon motorik terhadap rangsangan sensoris.
Beberapa peneliti lainnya mengungkapkan teori maturation lack atau suatu kelambanan dalam proses perkembangan anak-anak dengan ADHD. Menurut teori ini, penderita akhirnya dapat mengejar keterlambatannya dan keadaan ini dipostulasikan akan terjadi sekitar usia pubertas. Sehingga gejala ini tidak menetap tetapi hanya sementara sebelum keterlambatan yang terjadi dapat dikejar.
Banyak peneliti mengungkapkan penderita ADHD dengan gangguan saluran cerna sering berkaitan dengan penerimaan reaksi makanan tertentu. Teori tentang alergi terhadap makanan, teori feingold yang menduga bahwa salisilat mempunyai efek kurang baik terhadap tingkah laku anak, serta teori bahwa gula merupakan substansi yang merangsang hiperaktifitas pada anak. Disebutkan antara lain tentang teori megavitamin dan ortomolecular sebagai terapinya
Kerusakan jaringan otak atau ‘brain damage yang diakibatkan oleh trauma primer dan trauma yang berulang pada tempat yang sama. Kedua teori ini layak dipertimbangkan sebagai penyebab terjadinya syndrome hiperaktifitas yang oleh penulis dibagi dalam tiga kelompok. Dalam gangguan ini terjadinya penyimpangan struktural dari bentuk normal oleh karena sebab yang bermacam-macam selain oleh karena trauma. Gangguan lain berupa kerusakan susunan saraf pusat (SSP) secara anatomis seperti halnya yang disebabkan oleh infeksi, perdarahan dan hipoksia.
Perubahan lainnya terjadi gangguan fungsi otak tanpa disertai perubahan struktur dan anatomis yang jelas. Penyimpangan ini menyebabkan terjadinya hambatan stimulus atau justru timbulnya stimulus yang berlebihan yang menyebabkan penyimpangan yang signifikan dalam perkembangan hubungan anak dengan orang tua dan lingkungan sekitarnya.
Penelitian dengan membandingkan gambaran MRI antara anak dengan ADHD dan anak normal, ternyata menghasilkan gambaran yang berbeda, dimana pada anak dengan ADHD memiliki gambaran otak yang lebih simetris dibandingkan anak normal yang pada umumnya otak kanan lebih besar dibandingkan otak kiri.
Dengan pemeriksaan radiologis otak PET (positron emission tomography) didapatkan gambaran bahwa pada anak penderita ADHD dengan gangguan hiperaktif yang lebih dominan didapatkan aktifitas otak yang berlebihan dibandingkan anak yang normal dengan mengukur kadar gula (sebagai sumber energi utama aktifitas otak) yang didapatkan perbedaan yang signifikan antara penderita hiperaktif dan anak normal.

FAKTOR RESIKO

Dalam melakukan deteksi dini gangguan perilaku ini maka perlu diketahui faktor resiko yang bisa mengakibatkan gangguan ADHD. Banyak bukti penelitian yang menunjukkan peranan disfungsi Susunan saraf pusat (SSP). Sehingga beberapa kelainan dan gangguan yang terjadi sejak kehamilan, persalinan dan masa kanak-kanak harus dicermati sebagai faktor resiko.
Selama periode kehamilan, disfungsi SSP disebabkan oleh gangguan metabolik, genetik, infeksi, intoksikasi, obat-obatan terlarang, perokok, alkohol dan faktor psikogenik. Penyakit diabetes dan penyakit preeklamsia juga harus dicermati.
Pada masa persalinan, disebabkan oleh: prematuritas, post date, hambatan persalinan, induksi persalinan, kelainan letak (presentasi bayi), efek samping terapi, depresi sistem immun dan trauma saat kelahiran normal. Sedangkan periode kanak-kanak har5uis dicermati gangguan saluran cerna kronis, infeksi, trauma, terapi medikasi, keracunan, gangguan metabolik, gangguan vaskuler, faktor kejiwaan, keganasan dan terjadinya kejang. Riwayat kecelakaan hingga harus dirawat di rumah sakit,kekerasan secara fisik, verbal, emosi atau merasa diterlantarkan. Trauma yang serius, menerima perlakuan kasar atau merasa kehilangan sesuatu selama masa kanak-kanak, tidak sadar diri atau pingsan.

DETEKSI DINI GEJALA HIPERAKTIF

Untuk dapat disebut memiliki gangguan ADHD, harus ada tiga gejala utama yang nampak dalam perilaku seorang anak, yaitu inatensi, hiperaktif, dan impulsif.Inatensi atau pemusatan perhatian yang kurang dapat dilihat dari kegagalan seorang anak dalam memberikan perhatian secara utuh terhadap sesuatu. Anak tidak mampu mempertahankan konsentrasinya terhadap sesuatu, sehingga mudah sekali beralih perhatian dari satu hal ke hal yang lain.
Gejala hiperaktif dapat dilihat dari perilaku anak yang tidak bisa diam. Duduk dengan tenang merupakan sesuatu yang sulit dilakukan. Ia akan bangkit dan berlari-lari, berjalan ke sana kemari, bahkan memanjat-manjat. Di samping itu, ia cenderung banyak bicara dan menimbulkan suara berisik.
Gejala impulsif ditandai dengan kesulitan anak untuk menunda respon. Ada semacam dorongan untuk mengatakan/melakukan sesuatu yang tidak terkendali.Dorongan tersebut mendesak untuk diekspresikan dengan segera dan tanpa pertimbangan. Contoh nyata dari gejala impulsif adalah perilaku tidak sabar. Anak tidak akan sabar untuk menunggu orang menyelesaikan pembicaraan. Anak akan menyela pembicaraan atau buru-buru menjawab sebelum pertanyaan selesai diajukan. Anak juga tidak bisa untuk menunggu giliran, seperti antri misalnya. Sisi lain dari impulsivitas adalah anak berpotensi tinggi untuk melakukan aktivitas yang membahayakan, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.
Selain ketiga gejala di atas, untuk dapat diberikan diagnosis hiperaktif masih ada beberapa syarat lain. Gangguan di atas sudah menetap minimal 6 bulan, dan terjadi sebelum anak berusia 7 tahun. Gejala-gejala tersebut muncul setidaknya dalam 2 situasi, misalnya di rumah dan di sekolah.
Manifestasi klinis yang terjadi sangat luas, mulai dari yang ringan hingga berat atau bisa terjadi dengan jumlah gejala minimal hingga lebih banyak gejala. Tampilan klinis ADHD tampaknuya sudah bisa dideteksi sejak dini Sejas usia bayi. Gejala yang harus lebih dicermati pada usia bayi adalah bayi yang sangat sensitive terhadap suara dan cahaya, menangis, menjerit, sulit untuk diam, waktu tidur sangat kurang dan sering terbangun, kolik, sulit makan atau minum susu baik ASI atau susu botol., tidak bisa ditenangkan atau digendong, menolak untuk disayang, berlebihan air liur, kadang seperti kehausan sering minta minum, Head banging (membenturkan kepala, memukul kepala, menjatuhkan kepala kebelakang) dan sering marah berlebihan.
Keluhan lain pada anak besar adalah anak tampak Clumsy (canggung), impulsif, sering mengalami kecelakaan atau jatuh, perilaku aneh/berubah-ubah yang mengganggu, gerakan konstan atau monoton, lebih ribut dibandingkan anak lainnya. Agresif, Intelektual (IQ) normal atau tinggi tapi pretasi di sekolah buruk, Bila di sekolah kurang konsentrasi, aktifitas berlebihan dan tidak bisa diam, mudah marah dan meledak kemarahannya, nafsu makan buruk. Koordinasi mata dan tangan jelek., sulit bekerjasama, suka menentang dan tidak menurut, suka menyakiti diri sendiri (menarik rambut, menyakiti kulit, membentur kepala dll) dan gangguan tidur.
Tanda dan gejala pada anak yang lebih besar adalah tindakan yang hanya terfokus pada satu hal saja dan cenderung bertindak ceroboh, mudah bingung, lupa pelajaran sekolah dan tugas di rumah, kesulitan mengerjakan tugas di sekolah maupun di rumah, kesulitan dalam menyimak, kesulitan dalam menjalankan beberapa perintah, sering keceplosan bicara, tidak sabaran, gaduh dan bicara berbelit-belit, gelisah dan bertindak berlebihan, terburu-buru, banyak omong dan suka membuat keributan, dan suka memotong pembicaraan dan ikut campur pembicaraan orang lain
Gejala-gejala diatas biasanya timbul sebelum umur 7 tahun, dialami pada 2 atau lebih suasana yang berbeda (di sekolah, di rumah atau di klinik dll), disertai adanya hambatan yang secara signifikan dalam kehidupan sosial, prestasi akademik dan sering salah dalam menempatkan sesuatu, serta dapat pula timbul bersamaan dengan terjadinya kelainan perkembangan, skizofrenia atau kelainan psikotik lainnya20).
Tampilan lainnya pada anak dengan hiperaktif terjadi disorganisasi afektif, penurunan kontrol diri dan aktifitas yang berlebihan secara nyata. Mereka biasanya bertindak ‘nekat’ dan impulsif, kurang sopan, dan suka menyela pembicaraan serta mencampuri urusan orang lain. Sering kurang memperhatikan, tidak mampu berkonsentrasi dan sering tidak tuntas dalam mengerjakan sesuatu serta berusaha menghindari pekerjaan yang membutuhkan daya konsentrasi tinggi, tidak menghiraukan mainan atau sesuatu miliknya, mudah marah, sulit bergaul dan sering tidak disukai teman sebayanya. Tidak jarang mereka dengan kelainan ini disertai adanya gangguan pertumbuhan dan perkembangan, tetapi tidak didapatkan kelainan otak yang spesifik. Pada umumnya prestasi akademik mereka tergolong rendah dan minder. Mereka sering menunjukkan tidakan anti sosial dengan berbagai alasan sehingga orangtua, guru dan lingkungannya memperlakukan dengan tidak tepat dan tidak menyelesaikan masalah.
Sekitar 50-60% penderita ADHD didapatkan sedkitnya satu gangguan perilaku penyerta lainnya. Gangguan perilaku tersebut adalah gangguan belajar, restless-legs syndrome, ophthalmic convergence insufficiency, depresi, gangguan kecemasan, kepribadian antisosia, substance abuse, gangguan konduksi dan perilaku obsesif-kompulsif.
Penderita ADHD terjadi disorganisasi afektif, penurunan kontrol diri dan aktifitas yang berlebihan secara nyata. Mereka biasanya bertindak ‘nekat’ dan impulsif, kurang sopan, dan suka menyela pembicaraan serta mencampuri urusan orang lain. Sering kurang memperhatikan, tidak mampu berkonsentrasi dan sering tidak tuntas dalam mengerjakan sesuatu serta berusaha menghindari pekerjaan yang membutuhkan daya konsentrasi tinggi, tidak menghiraukan mainan atau sesuatu miliknya, mudah marah, sulit bergaul dan sering tidak disukai teman sebayanya. Tidak jarang mereka dengan kelainan ini disertai adanya gangguan pertumbuhan dan perkembangan, tetapi tidak didapatkan kelainan otak yang spesifik. Pada umumnya prestasi akademik mereka tergolong rendah dan minder. Mereka sering menunjukkan tidakan anti sosial dengan berbagai alasan sehingga orangtua, guru dan lingkungannya memperlakukan dengan tidak tepat dan tidak menyelesaikan masalah.
Resiko terjadi ADHD semakina meningkat bila salah satu saudara atau orang tua mengalami ADHD atau gangguan psikologis lainnya. Gangguan posikologis dan perilaku tersebut meliputi gangguan bipolar, gangguan konduksi, depresi, gangguan disosiatif, gangguan kecemasan, gangguan belajar, gangguan mood, gangguan panic, obsesif-kompulsif, gangguan panic disertai goraphobia. Juga kelainan perilaku lainnnya seperti gangguan perkembangan perfasif termasuk gangguan Asperger, Posttraumatic stress disorder (PTSD), Psychotic, Social phobia, ganggguan tidur, sindrom Tourette dan ticks.

DIAGNOSIS ADHD

Diagnosa hiperaktifitas tidak dapat dibuat hanya berdasarkan informasi sepihak dari orang tua penderita saja tetapi setidaknya informasi dari sekolah, serta penderita harus dilakukan pemeriksaan meskipun saat pemeriksaan penderita tidak menunjukkan tanda-tanda hiperaktif, dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi saat pemeriksaan dan kemungkinan hal lain yang mungkin mejadi pemicu terjadinya hiperaktifitas. Pada beberapa kasus bahkan membutuhkan pemeriksaan psikometrik dan evaluasi pendidikan. Hingga saat ini belum ada suatu standard pemeriksaan fisik dan psikologis untuk hiperaktifitas. Ini berarti pemeriksaan klinis haruslah dilakukan dengan sangat teliti meskipun belum ditemukan hubungan yang jelas antara jenis pemeriksaan yang dilakukan dengan proses terjadinya hiperaktifitas. Beragam kuesioner dapat disusun untuk membantu mendiagnosa, namun yang terpenting adalah perhatian yang besar dan pemeriksaan yang terus-menerus, karena tidak mungkin diagnosa ditegakkan hanya dalam satu kali pemeriksaan.
Bila didapatkan seorang anak dengan usia 6 hingga 12 tahun yang menunjukkan tanda-tanda hiperaktif dengan prestasi akademik yang rendah dan kelainan perilaku, hendaknya dilakukan evaluasi awal kemungkinan
Untuk mendiagnosis ADHD digunakan kriteria DSM IV yang juga digunakan, harus terdapat 3 gejala : Hiperaktif, masalah perhatian dan masalah konduksi.

KRITERIA A –MASING-MASING (1) ATAU (2)
(1) Enam atau lebih dari gejala

(1) Enam atau lebih gejala dari kurang perhatian atau konsentrasi yang tampak paling sedikit 6 bulan terakhir pada tingkat maladaptive dan tidak konsisten dalam perkembangan
INATTENTION
a. Sering gagal dalam memberi perhatian secara erat secara jelas atau membuat kesalahan yang tidak terkontrol dalam :
1. sekolah
2. bekerja
3. aktifitas lainnya
b. Sering mengalami kesulitan menjaga perhatian/ konsentrasi dalam menerima tugas atau aktifitas bermain.
c. Sering kelihatan tidak mendengarkan ketika berbicara secara langsung
1. Menyelesaikan pekerjaan rumah
2. Pekerjaan atau tugas
3. Mengerjakan perkerjaan rumah (bukan karena perilaku melawan)
4. Gagal untuk mengerti perintah
d. Sering kesulitan mengatur tugas dan kegiatan
e. Sering menghindar, tidak senang atau enggan mengerjakan tugas yang membutuhkan usaha (seperti pekerjaan sekolah atau perkerjaan rumah)
f. Sering kehilangan suatu yang dibutuhkan untuk tugas atau kegiatan ( permainan, tugas sekolah, pensil, buku dan alat sekolah lainnya ))
g. Sering mudah mengalihkan perhatian dari rangsangan dari luar yang tidak berkaitan
h. Sering melupakan tugas atau kegiatan segari-hari
(2) Enam atau lebih gejala dari hiperaktivitas/impulsifitas yang menetap dalam 6 bulan terakhir
HIPERAKTIFITAS
a. Sering merasa gelisah tampak pada tangan, kaki dan menggeliat dalam tempat duduk
b. Sering meninggalkan tempat duduk dalam kelas atau situasi lain yang mengharuskan tetap duduk.
c. Sering berlari dari sesuatu atau memanjat secara berlebihan dalam situasi yang tidak seharusnya (pada dewasa atau remaja biasanya terbatas dalam keadaan perasaan tertentu atau kelelahan )
d. Sering kesulitan bermain atau sulit mengisi waktu luangnya dengan tenang.
e. isering berperilaku seperti mengendarai motor
f. Sering berbicara berlebihan
IMPULSIF
a.Sering mengeluarkan perkataan tanpa berpikir, menjawab pertanyaan sebelum pertanyaannya selesai.
b. Sering sulit menunggu giliran atau antrian
c. Sering menyela atau memaksakan terhadap orang lain (misalnya dalam percakapan atau permainan).
KRITERIA B: Gejala hiperaktif-impulsif yang disebabkan gangguan sebelum usia 7 tahun.
KRITERIA C : Beberapa gangguan yang menimbulkan gejala tampak dalam sedikitnya 2 atau lebih situasi ( misalnya di kelas, di permainan atau di rumah )
KRITERIA D : Harus terdapat pengalaman manifestasi bermakna secara jelas mengganggu kehidupan sosial, akademik, atau pekerjaan )
KRITERIA E : Gejala tidak terjadi sendiri selama perjalanan penyakit dari Pervasive Developmental Disorder, Schizophrenia, atau gangguan psikotik dan dari gangguan mental lainnya (Gangguian Perasaan, Gangguan kecemasan, Gangguan Disosiatif atau gangguan kepribadian)
Diagnosis ADHD, Tipe kombinasi jika terdapat pada A1 dan A2 yang didaptkan dalam 6 bulan terakhir. ADHD tipe Inatentif redominan jika dalam kriteria didapatkan A1, tetapi tidak didapatkan gejala pada A2 dalam 6 bulan terakhir. ADHD Hiperaktif Predominan -Tipe Impulsif): jika kriteria didapatkan A2 tapi tidak dijumpai kriteria A1 dalam 6 bulan terakhir.
Kriteria diagnostik hiperaktifitas adalah ditemukannya 6 gejala atau lebih yang menetap setidaknya selama 6 bulan. Gejala-gejala diatas biasanya timbul sebelum umur 7 tahun, dialami pada 2 atau lebih suasana yang berbeda (di sekolah, di rumah atau di klinik dll), disertai adanya hambatan yang secara signifikan dalam kehidupan sosial, prestasi akademik dan sering salah dalam menempatkan sesuatu, serta dapat pula timbul bersamaan dengan terjadinya kelainan perkembangan, skizofrenia atau kelainan psikotik lainnya.

PENANGANAN DINI HIPERAKTIFITAS

Melihat penyebab ADHD yang belum pasti terungkap dan adanya beberapa teori penyebabnya, maka tentunya terdapat banyak terapi atau cara dalam penanganannya sesuai dengan landasan teori penyebabnya.
Terapi medikasi atau farmakologi adalah penanganan dengan menggunakan obat-obatan. Terapi ini hendaknya hanya sebagai penunjang dan sebagai kontrol terhadap kemungkinan timbulnya impuls-impuls hiperaktif yang tidak terkendali. Sebelum digunakannya obat-obat ini, diagnosa ADHD haruslah ditegakkan lebih dulu dan pendekatan terapi okupasi lainnya secara simultan juga harus dilaksanakan, sebab bila penanganan hanya diutamakan obat maka tidak akan efektif secara jangka panjang.
Terapi nutrisi dan diet banyak dilakukan dalam penanganan penderita. Diantaranya adalah keseimbangan diet karbohidrat, penanganan gangguan pencernaan (Intestinal Permeability or “Leaky Gut Syndrome”), penanganan alergi makanan atau reaksi simpang makanan lainnya. Feingold Diet dapat dipakai sebagai terapi alternatif yang dilaporkan cukup efektif. Suatu substansi asam amino (protein), L-Tyrosine, telah diuji-cobakan dengan hasil yang cukup memuaskan pada beberapa kasus, karena kemampuan L-Tyrosine mampu mensitesa (memproduksi) norepinephrin (neurotransmitter) yang juga dapat ditingkatkan produksinya dengan menggunakan golongan amphetamine.
Beberapa terapi biomedis dilakukan dengan pemberian suplemen nutrisi, defisiensi mineral, essential Fatty Acids, gangguan metabolisme asam amino dan toksisitas Logam berat. Terapi inovatif yang pernah diberikan terhadap penderita ADHD adalah terapi EEG Biofeed back, terapi herbal, pengobatan homeopatik dan pengobatan tradisional Cina seperti akupuntur.
Terapi yang diterapkan terhadap penderita ADHD haruslah bersifat holistik dan menyeluruh. Penanganan ini hendaknya melibatkan multi disiplin ilmu yang dilakukan antara dokter, orangtua, guru dan lingkungan yang berpengaruh terhadap penderita secara bersama-sama. Penanganan ideal harus dilakukan terapi stimulasi dan terapi perilaku secara terpadu guna menjamin keberhasilan terapi.
Untuk mengatasi gejala gangguan perkembangan dan perilaku pada penderita ADHD yang sudah ada dapat dilakukan dengan terapi okupasi. Ada beberapa terapi okupasi untuk memperbaiki gangguan perkembangan dan perilaku pada anak yang mulai dikenalkan oleh beberapa ahli perkembangan dan perilaku anak di dunia, diantaranya adalah sensory Integration (AYRES), snoezelen, neurodevelopment Treatment (BOBATH), modifukasi Perilaku, terapi bermain dan terapi okupasi lainnya

STIMULASI DINI

Terapi modifikasi perilaku harus melalui pendekatan perilaku secara langsung, dengan lebih memfokuskan pada perunahan secara spesifik. Pendekatan ini cukup berhasil dalam mengajarkan perilaku yang diinginkan, berupa interaksi sosial, bahasa dan perawatan diri sendiri. Selain itu juga akan mengurangi perilaku yang tidak diinginkan, seperti agrsif, emosi labil, self injury dan sebagainya. Modifikasi perilaku, merupakan pola penanganan yang paling efektif dengan pendekatan positif dan dapat menghindarkan anak dari perasaan frustrasi, marah, dan berkecil hati menjadi suatu perasaan yang penuh percaya diri.
Terapi bermain sangat penting untuk mengembangkan ketrampilan, kemampuan gerak, minat dan terbiasa dalam suasana kompetitif dan kooperatif dalam melakukan kegiatan kelompok. Bermain juga dapat dipakai untuk sarana persiapan untuk beraktifitas dan bekerja saat usia dewasa. Terapi bermain digunakan sebagai sarana pengobatan atau terapitik dimana sarana tersebut dipakai untuk mencapai aktifitas baru dan ketrampilan sesuai dengan kebutuhan terapi.
Dengan bertambahnya umur pada seorang anak akan tumbuh rasa tanggung jawab dan kita harus memberikan dorongan yang cukup untuk mereka agar mau belajar mengontrol diri dan mengendalikan aktifitasnya serta kemampuan untuk memperhatikan segala sesuatu yang harus dikuasai, dengan menyuruh mereka untuk membuat daftar tugas dan perencanaan kegiatan yang akan dilakukan sangat membantu dalam upaya mendisiplinkan diri, termasuk didalamnya kegiatan yang cukup menguras tenaga (olah raga dll) agar dalam dirinya tidak tertimbun kelebihan tenaga yang dapat mengacaukan seluruh kegiatan yang harus dilakukan. Nasehat untuk orangtua, sebaiknya orang tua selalu mendampingi dan mengarahkan kegiatan yang seharusnya dilakukan si-anak dengan melakukan modifikasi bentuk kegiatan yang menarik minat, sehingga lambat laun dapat mengubah perilaku anak yang menyimpang. Pola pengasuhan di rumah, anak diajarkan dengan benar dan diberikan pengertian yang benar tentang segala sesuatu yang harus ia kerjakan dan segala sesuatu yang tidak boleh dikerjakan serta memberi kesempatan mereka untuk secara psikis menerima petunjuk-petunjuk yang diberikan.
Umpan balik, dorongan semangat, dan disiplin, hal ini merupakan pokok dari upaya perbaikan perilaku anak dengan memberikan umpan balik agar anak bersedia melakukan sesuatu dengan benar disertai dengan dorongan semangat dan keyakinan bahwa dia mampu mengerjakan, pada akhirnya bila ia mampu mengerjakannya dengan baik maka harus diberikan penghargaan yang tulus baik berupa pujian atupun hadiah tertentu yang bersifat konstruktif. Bila hal ini tidak berhasil dan anak menunjukkan tanda-tanda emosi yang tidak terkendali harus segera dihentikan atau dialihkan pada kegiatan lainnya yang lebih ia sukai. Strategi di tempat umum, terkadang anak justru akan terpicu perlaku distruktifnya di tempat-tempat umum, dalam hal ini berbagai rangsangan yang diterima baik berupa suasana ataupun suatu benda tertantu yang dapat membangkitkan perilaku hiperaktif / destruktif haruslah dihindarkan dan dicegah, untuk itu orang tua dan guru harus mengetahui hal-hal apa yang yang dapat memicu perilaku tersebut. Modifikasi perilaku, merupakan pola penanganan yang paling efektif dengan pendekatan positif dan dapat menghindarkan anak dari perasaan frustrasi, marah, dan berkecil hati menjadi suatu perasaan yang penuh percaya diri.

PENUTUP

ADHD atau Attention Deficite Hyperactivity Disorder pada anak yang merupakan gangguan perilaku yang semakin sering ditemukan. Seringkali karena kurang pemahaman dari orangtua dan guru serta orang-orang disekitarnya anak diperlakukan tidak tepat sehingga cenderung memparah keadaan. Terdapat beberapa pegangan dalam mendiagnosa ADHD, gejala hiperaktifitas harus dapat dilihat pada setidaknya di dua tempat yang berbeda dengan kondisi (setting) yang berbeda pula.
Terapi yang diterapkan terhadap penderita ADHD haruslah bersifat holistik dan menyeluruh. Penanganan ini harus melibatkan multi disiplin ilmu yang dikoordinasikan antara dokter, orangtua, guru dan lingkungan yang berpengaruh terhadap penderita.

DAFTAR PUSTAKA

1. APA: Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders. 4th ed. Washington, DC: American Psychiatric Association Press; 1994: 78-85.
2. Brown TE: Brown ADD Scales. San Antonio, TX: Psychological Corp; 1996: 5-6.
3. Elia J, Ambrosini PJ, Rapoport JL: Treatment of attention-deficit-hyperactivity disorder. N Engl J Med 1999 Mar 11; 340(10): 780-8
4. Hunt RD, Paguin A, Payton K: An update on assessment and treatment of complex attention-deficit hyperactivity disorder. Pediatr Ann 2001 Mar; 30(3): 162-72.
5. Ramchandani P, Joughin C, Zwi M: Attention deficit hyperactivity disorder in children. Clin Evid 2002 Jun; 262-71.
6. Reeves G, Schweitzer J: Pharmacological management of attention-deficit hyperactivity disorder. Expert Opin Pharmacother 2004 Jun; 5(6): 1313-20
7. Wilens TE: Straight Talk about Psychiatric Medications for Kids. New York, NY: Guilford Press; 2002.
8. American Psychiatric Association: Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV-TR). 4th ed. Washington, DC: American Psychiatric Association; 2000. 78-85.
9. Baving L, Laucht M, Schmidt MH: Atypical frontal brain activation in ADHD: preschool and elementary school boys and girls. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry 1999 Nov; 38(11): 1363-71
10. Biederman J, Faraone SV, Milberger S: Is childhood oppositional defiant disorder a precursor to adolescent conduct disorder? Findings from a four-year follow-up study of children with ADHD. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry 1996 Sep; 35(9): 1193-204
11. Bush G, Frazier JA, Rauch SL: Anterior cingulate cortex dysfunction in attention- deficit/hyperactivity disorder revealed by fMRI and the Counting Stroop. Biol Psychiatry 1999 Jun 15; 45(12): 1542-52
12. Casey BJ, Castellanos FX, Giedd JN: Implication of right frontostriatal circuitry in response inhibition and attention-deficit/hyperactivity disorder. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry – Sarfatti SE; 36(3): 374-83
13. Dulcan M: Practice parameters for the assessment and treatment of children, adolescents, and adults with attention-deficit/hyperactivity disorder. American Academy of Child and Adolescent Psychiatry. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry 1997 Oct; 36(10 Suppl): 85S-121S
14. Faraone SV, Sergeant J, Gillberg C, Biederman J: The Worldwide Prevalence of ADHD: Is it an American Condition? World Psychiatry 2003;2:104-113.
15. Faraone SV, Perlis RH, Doyle AE, et al: Molecular genetics of attention-deficit/hyperactivity disorder. Biol Psychiatry 2005 Jun 1; 57(11): 1313-23
16. Green WH: Child and Adolescent Clinical Psychopharmacology. Baltimore, Md: Williams & Wilkins; 1995: 56-77.
17. Greenhill LL: Diagnosing attention-deficit/hyperactivity disorder in children. J Clin Psychiatry 1998; 59 Suppl 7: 31-41
18. Jensen PS: Fact versus fancy concerning the multimodal treatment study for attention-deficit hyperactivity disorder. Can J Psychiatry 1999 Dec; 44(10): 975-80
19. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA: Kaplan and Sadock’s Synposis of Psychiatry. 7th ed. Baltimore, Md: Williams & Wilkins; 1994: 1063-8.
20. MTA Cooperative Group: A 14-month randomized clinical trial of treatment strategies for attention-deficit/hyperactivity disorder. The MTA Cooperative Group. Multimodal Treatment Study of Children with ADHD. Arch Gen Psychiatry 1999 Dec; 56(12): 1073-86
21. Multimodal Treatment Study: Moderators and mediators of treatment response for children with attention-deficit/hyperactivity disorder: the Multimodal Treatment Study of children with Attention-deficit/hyperactivity disorder. Arch Gen Psychiatry 1999 Dec; 56(12): 1088-96
22. Rugino TA, Samsock TC: Modafinil in children with attention-deficit hyperactivity disorder. Pediatr Neurol 2003 Aug; 29(2): 136-42
23. Rutter M, Taylor E, Hersov L: Child and Adolescent Psychiatry: Modern Approaches. 3rd ed. Oxford, UK: Blackwell Science; 1994: 285-307.
24. Spencer T, Biederman J, Wilens T: Nonstimulant treatment of adult attention-deficit/hyperactivity disorder. Psychiatr Clin North Am 2004 Jun; 27(2): 373-83
25. Vaidya CJ, Austin G, Kirkorian G: Selective effects of methylphenidate in attention deficit hyperactivity disorder: a functional magnetic resonance study. Proc Natl Acad Sci U S A 1998 Nov 24; 95(24): 14494-9
26. Daruna JH, Dalton R, Forman MA. Attention deficit hyperactifity disorder. Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB. Nelson textbook of pediatrics. 16th ed. WB Saunders Co. USA. 2000;29.2:100-3.
27. Laufer MW. Brain disorder. Ed. Freedman AM, Kaplan HI. Dalam: Comprehensive textbook of psychiatry. The Williams and Wilkins Co. Maryland, USA.1973;42:1142-52.
28. Child development institute. About Attention Deficit Hyperactivity Disorder ADD/ADHD. Child Development Institute 2003: ttp://www.childdevelopmentinfo.com/disorders/adhd.shtml.
29. IMH. Attention Deficit Hyperactivity Disorder. NIMH Public Inquiries Bethesda, U.S.A dapat dilihat di: http://www.nimh.nih.gov/publicat/ adhd.cfm diakses pada: 27 April 2003.
30. American academy of pediatrics. Clinical Practice Guideline: Treatment of the School-Aged Child With Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Pediatrics Vol. 108 No. 4. USA. 2001;1033-44

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Menanti bom waktu Autisme

Menanti Bom Waktu Autisme

Melly Budhiman; Sosok dan Kiprahnya
Jakarta,- Pada 2 April dunia memperingati hari autisme. Satu peringatan yang penting untuk dunia kesehatan. Melly Budhiman, Ketua Yayasan Autisme Indonesia (YAI), mengatakan autisme kini sudah menjadi pandemi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Sejak dirinya berpraktek sebagai psikiater dari 1976 sampai 1980-an, pasien autisme yang datang ke dirinya hanya tiga sampai lima per tahun. Sekarang, tiga pasien baru per hari, itu pun karena dirinya membatasi menerima pasien. Kalau tidak membatasinya mungkin pasien baru lebih banyak. Bayangkan, dari tiga per tahun sampai tiga per hari hanya dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Menurut Melly, autisme di Indonesia kurang mendapat perhatian. Padahal sekali terdiagnosa sebagai anak autisme maka untuk keluar dari gejala itu butuh waktu bertahun-tahun dan biayanya sangat mahal. Ini seperti bom waktu yang mau meledak. Makin banyak, makin banyak, makin banyak dan akhirnya kita akan kehilangan generasi mendatang karena anak autisme dari lapisan masyarakat bawah tidak mendapat penanganan yang baik. Berikut wawancara Faisol Riza dengan Melly Budhiman.

Data yang muncul di beberapa media menyebutkan bahwa pada tahun 1987 rasio jumlah orang dengan autisme adalah 1: 5.000. Pada tahun 2007 di AS menurut laporan Center for Disease Control memiliki rasio autisme 1:150 (di antara 150 anak, ada satu anak autisme). Sementara di Inggris sendiri disebutkan rasionya yaitu 1:100. Dari data yang sudah muncul di beberapa media terlihat semakin lama semakin tinggi orang dengan autisme. Apa itu autisme?

Autisme bukan penyakit jadi jangan disebut penderita atau penyandang karena memang disandang seumur hidup. Autisme adalah suatu gangguan perkembangan. Bedanya dengan penyakit adalah kalau penyakit ada virusnya, ada kumannya, ada jamurnya. Sedangkan autisme tidak ada. Jadi tidak ada obatnya juga.

Apa gejalanya?

Gejalanya adalah gangguan perkembangan yang menyangkut perkembangan komunikasi dua arah, kemudian interaksi sosial yang timbal balik, dan perilaku. Yang nomor satu kelihatan adalah anak ini tidak bisa berbicara. Walaupun sudah waktunya bicara masih belum bisa bicara. Itu yang biasanya membawa orang tua ke dokter. Mengapa anak saya sudah 2,5 tahun belum bisa bicara? Kalau dokternya mengerti maka akan langsung waspada lalu periksa yang lain-lain. Tapi kalau dokternya tidak mengerti kadang-kadang diremehkan, seperti mengatakan, “Tidak apa-apa, biasa anak laki itu bicaranya terlambat, keponakan saya empat tahun baru bisa bicara juga sudah jadi profesor sekarang.” Jadi orangtuanya terlena. Beda antara anak autisme dan tidak adalah kalau anak terlambat bicara saja maka dia akan berusaha komunikasi dengan bahasa Tarzan. Jadi dia terlambat komunikasi verbal. Tapi secara non verbal dia berusaha komunikasi dengan mimik muka, dengan gerak gerik. Sedangkan anak autisme tidak.

Apa gejala yang biasanya tampak dalam perilaku?

Perilakunya terlihat sekali aneh-aneh. Dia melakukan hal-hal yang aneh berulang-ulang. Misalnya, dia sering berputar-putar, dia sering memutari benda yang bulat dan senang sekali. Kalau sudah berhasil kemudian melompat-lompat sambil mengepak-ngepakkan tangan. Kemudian ada juga yang suka duduk di pojok, atau hanya main pasir, atau ada yang senangnya main air, dan ada yang mendorong-dorong terus bolak-balik.

Apa bedanya dengan down syndrome, terbelakang atau cacat mental?

Beda banget dong. Kalau down syndrome itu kelainan kromosom. Pada saat pembuahan ada kromosom yang nakal, menyeleweng. Seharusnya kromosom ibu terbelah dua, ayah terbelah dua juga kemudian masing-masing kromosom saling menempel seperti di nomor 1, 2, 3, dan seterusnya. Ada satu yang nakal, bukannya menempel di kromosomnya sendiri, di nomornya sendiri, tapi dia menyeleweng menempel di kromosom lain.

Apakah gejalanya sama?

Tidak, kalau kelainan kromosom itu seluruh tubuh sudah ada kelainan kromosom, kemudian kelainan kromosom selalu disertai dengan retardasi mental. Jadi IQ-nya kurang. Kemudian ada ciri-ciri fisik. Misalnya Down Syndrome itu ciri fisiknya disebut Mongoloid, karena wajahnya seperti orang Mongol. Matanya miring ke atas, hidungnya pesek, dan sebagainya. Segala bangsa kalau sudah down syndrome wajahnya sama.

Apakah kalau anak autisme bisa pintar dengan IQ yang lebih tinggi daripada anak lainnya?

Bisa. Kalau autisme itu tidak ada kelainan kromosom, tapi ada kelemahan genetik. Predisposisi genetik itu ada. Akan tetapi, predisposisi genetik itu harus ada yang diturunkan oleh ayah dan ibu. Bukan salah satu. Jadi bawaan kelemahan genetik. Tapi meskipun kita membawa kelemahan genetik kalau tidak ada paparan negatif dari lingkungan, mungkin gejala autisme tidak tercetus.

Apa penyebab dari lingkungan?

Misalnya racun-racun kimia. Sekarang makanan anak ada pengawet, perasa, pewarna, itu semua racun kimia. Kemudian di rumah orang memakai penyemprot pembasmi nyamuk. Kalau obat itu bisa membunuh nyamuk, apa itu bukan racun buat manusia? Juga pemakaian kimia yang terlalu banyak, kemudian paparan polusi udara. Udara kita terpolusi nomor tiga di dunia di bawah Cina dan India. Jadi anak-anak kita menghirup udara yang mengandung logam berat, misalnya mercury, cadmium, plumbum (timah hitam). Anak-anak lain juga menghirup tapi mereka tidak autisme, sedangkan anak ini menjadi autisme karena sudah ada kelemahan genetik.

Di mana bagian tubuh yang biasanya terkena pengaruh polusi?

Di otak. Itu yang kemudian memerintah tubuh sehingga tidak berkembang. Tapi teori sekarang adalah itu bukan kelainan di otak saja, tetapi tubuhnya juga menderita suatu kelainan yang mempengaruhi kerja otaknya. Kalau yang di tubuh diobati sehingga menjadi baik, maka yang di otak juga akan sembuh sehingga autisme juga bisa diperbaiki.

Agar masyarakat bisa mengetahui dan mendeteksi secara dini, apa yang mereka mesti lakukan sejak awal?

Untuk mendeteksi dini harus mengetahui kapan gejalanya mulai timbul. Gejalanya timbul di bawah usia tiga tahun. Namun sebagian memang sudah ada sejak lahir. Sebagian lagi saat hamil normal, lahir normal, berkembang normal, namun pada umur 1,5-2 tahun mendadak berhenti berkembang, kemudian mundur, dan muncul gejala autisme. Kalau anak yang sejak lahir sudah membawa gejala itu, misalkan, ibu hamil terkena rubella, kena campak, herpes, dan sebagainya. Pada waktu empat bulan pertama kehamilan bisa mempengaruhi perkembangan otaknya. Anaknya sejak lahir sudah ada gejala autisme. Anaknya itu kelihatan tidak responsif, tatap matanya sejak kecil tidak ada. Kalau diajak gurau oleh ibunya tidak merespons, cuek. Tidak mencari suara ibu. Itu sudah kelihatan. Makin besar makin kelihatan. Tapi kalau anak yang sudah berkembang normal kemudian mundur, itu lebih jelas. Misalnya, sudah bisa berbicara tapi sekarang tidak bisa lagi, sekarang menjadi hyper, menjadi cuek. Nah, anak itu harus dibawa ke dokter.

Dulu orang beranggapan autisme cuma diderita oleh kelompok tertentu saja, hanya dikenal di kota saja, barangkali orang kaya saja yang tahu karena untuk memeriksakannya membutuhkan biaya mahal. Apa memang seperti itu citranya?

Mungkin iya, karena umumnya yang memeriksakan anaknya hanya orang yang kaya. Kalau orang miskin tidak dibawa ke dokter. Tapi buktinya pasien saya sekarang dari semua golongan. Dari anaknya penjual bakso, koran, bengkel sepeda, pembantu, Satpam. Jadi dari semua golongan. Ada juga yang oma-opanya profesor, orang tuanya sarjana tapi anaknya autisme. Juga tidak mengenal etnik, semua etnik di Indonesia kena. Kemudian tidak mengenal bangsa, di Afrika banyak autisme, di India banyak, di Qatar banyak, di Amerika juga banyak. Pokoknya sekarang itu suatu pandemi di seluruh dunia.

Apakah ini sebetulnya dari zaman dulu sudah ada atau memang beberapa dekade terakhir ini saja dikenal secara luas?

Dari dahulu juga ada tapi sedikit. Misal, saya praktek sebagai psikiater anak sudah dari tahun 1976. Sejak itu sampai tahun 1980-an, pasien autisme yang datang ke saya mungkin tiga sampai lima per tahun sehingga saya ingat betul karena kasusnya jarang. Sekarang, tiga pasien baru per hari, itu pun karena saya membatasinya. Kalau saya tidak membatasinya mungkin pasien baru lebih banyak. Bayangkan, dari tiga per tahun sampai tiga per hari hanya dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Apakah ada atau tidak jenis-jenis autisme itu? Maksudnya, spektrumnya karena bisa macam-macam maka kecenderungannya bisa macam-macam. Apakah ada jenis tertentu yang dibedakan secara ilmu medis?

Sebetulnya tidak. Istilah medisnya itu sebetulnya autisme invantil kemudian diperpendek menjadi autisme, kemudian diperpendek lagi oleh awan menjadi autis. Lalu dikatakan juga spectrum disorder karena spektrumnya luas. Maksudnya spektrumnya luas maka gejalanya sangat variatif. Ada yang hiperaktif, ada yang hipoaktif, ada yang suka menyerang, ada yang suka menyakiti diri sendiri, ada yang pintar, ada yang bodoh. Gejalanya sangat variatif. Karena itu dikatakan suatu spektrum yang sangat luas.

Apakah sebenarnya bisa sembuh dalam tanda petik?

Sekarang dikatakan bisa. Tergantung dari apa yang disebut sembuh itu. Kalau sembuh berarti dia sudah pandai berkomunikasi dengan orang lain, dia sudah bisa bersosialisasi, perilakunya sudah tidak aneh-aneh lagi, banyak yang sudah sembuh dalam tanda kutip.

Bagaimana terapi yang telah dibuat untuk penyandang autis?

Terapinya harus sangat-sangat intensif, sangat komprehensif, dan macam-macam. Pertama, mereka tidak bisa berbicara maka harus mendapatkan terapi bicara. Kemudian lucunya anak ini ototnya kuat. Jadi bisa lari dan kalau memukul orang bukan main kerasnya. Tapi disuruh pegang pensil, tangannya lemas. Jadi seolah-olah tidak mempunyai tenaga. Otot-otot halusnya tidak terampil sehingga mereka harus mandapatkan terapi okupasi untuk melenturkan otot-otot halusnya dan dipersiapkan supaya bisa memegang pensil, bisa menulis, dan sebagainya. Selain itu, karena mereka memiliki perilaku yang aneh-aneh, maka harus terapi perilaku. Jadi perilaku yang tidak wajar dihilangkan, diganti dengan perilaku yang wajar. Itu yang dari luar. Kemudian ada juga yang keseimbangannya tidak bagus atau panca inderanya ada gangguan. Nah itu perlu diterapi juga, namanya terapi integrasi sensoris. Disuruh merosot di perosotan, diglondongin di bola besar, diayun-ayun, dan sebagainya. Itu terapi-terapi dari luar.

Dari dalam tubuh sendiri juga harus diterapi, dicari dengan laboratorium atau periksa darah apakah anak ini mempunyai gangguan alergi atau tidak? Kebanyakan mereka mempunyai alergi makanan yang sangat banyak. Kalau ketahuan, hilangkan. Kemudian rambutnya diperiksa, apakah anak ini keracunan logam berat atau tidak? Kalau keracunan didetoks atau dikeluarkan logam beratnya. Anak-anak ini pencernaannya jelek. Kalau kita secara cermat bertanya pada orang tuanya, “Ibu, bagaimana pola pencernaannya?” Jawabannya, “Itu dok, lima hari sekali baru ke belakang, pringkil-pringkil kayak krikil. Kemudian baunya luar biasa.” Jadi pencernaannya buruk sekali. Kalau diperiksa, banyak sekali jamur dan kuman di ususnya, dan itu kronis bertahun-tahun.

Berapa lama usia seorang anak bisa diobservasi tapi di atas usia tertentu sudah bisa bebas autisme?

Oh, tidak ada peramal yang bisa meramalkan kapan dia akan bebas. Pokoknya, yang satu cepat sembuh dalam tanda kutip, yang satu tidak sembuh-sembuh sampai besar. Jadi variatif, setiap kasus itu unik, tidak bisa kita mengeneralisasi. Sering orang tua bertanya, “Bu dokter, berapa tahun lagi kira-kira sembuhnya?” Loh, mana tahu, kita bukan peramal.

Apakah terapi anak autisme bisa dilakukan oleh keluarga juga?

Kalau keluarganya mau melakukan terapi bisa juga. Dalam hal ini sebetulnya anak juga mengerti. Kalau di terapi center, dia menurut dengan gurunya. Namun saat terapi dilakukan oleh orang tuanya di rumah, dia sama sekali tidak mau seperti mengerti siapa yang harus dituruti. Jadi orang tua kesulitan kecuali sangat tegas, sangat konsisten dalam disiplin sehingga anak menjadi menurut. Saya mempunyai teman yang anaknya autisme. Lalu dia mengatakan, “Sewaktu kecil, kayaknya tuh saya juga begini”. Ditanya, “Kok bisa dan sekarang sudah jadi sarjana?” Dijawab, “Ya, ayah saya itu tentara jadi tidak mentolelir perilaku yang aneh-aneh. Saya ditampar dan saya takut, gak berani berperilaku begitu”. Sembuh tuh. Tapi saya tidak menganjurkan supaya menampari anak.

Mengenai Yayasan Autisme Indonesia (YAI), yayasan ini secara serius menangani dan mengobservasi kasus autisme di Indonesia. Apa harapan Anda sebagai ketua yayasan terhadap pemerintah dalam kasus ini?

Sekali terdiagnosa sebagai anak autisme maka untuk keluar dari gejala itu butuh waktu bertahun-tahun dan biayanya sangat mahal. Segala jenis terapi yang saya sebutkan tadi mahal dan biayanya dihitung per jam, misalnya Rp 50.000 per jam. Apakah biaya itu bisa terjangkau sama orang lapisan bawah? Jadi yang saya harapkan pemerintah mendirikan sekolah-sekolah gratis dengan terapis yang dilatih dan terapisnya gratis. Jadi untuk golongan yang sangat-sangat bawah bisa membawa anaknya terapi. Mana mungkin dan darimana uangnya kalau gajinya Rp 400.0000 sebulan disuruh bayar terapi sejamnya Rp 50.000. Kemudian vitamin dan obatnya juga mahal sekali, kalau sakit juga membutuhkan dokter, dan sebagainya. Kami mengharapkan kita mempunyai autisme center, diagnosis center, teraphist center, information center, research center. Kalau itu semua diongkosi oleh pemerintah, wah senang sekali.

Ini mungkin pemerintah sekarang sedang sibuk dengan flu burung.

Itu karena flu burung fatal. Sementara autisme dinilai tidak fatal, jadi kurang mendapat perhatian. Tapi ini kayak bom waktu yang mau meledak. Makin banyak, makin banyak, makin banyak dan akhirnya kita akan kehilangan generasi mendatang karena anak autisme dari lapisan bawah masyarakat tidak mendapat penanganan yang baik. Sekarang saya tidak tahu bagaimana jumlah orang dengan autisme, apakah 1:250, 1:200, 1:150. Saya tidak tahu. Belum pernah dilakukan survey mengenai banyaknya jumlah anak autisme di Indonesia. Itu karena harus dilakukan seperti sensus sehingga mahal sekali. Suatu kali kami pernah nekat, ok yayasan autisme mau kerja rodi mengadakan survey asal ada uangnya. Kami kemudian membuat proposal dan menghitung biaya untuk survey mendata anak autisme di lima wilayah Jakarta membutukan Rp 900 juta. Tidak ada yang mau memberikan uang ke kita Rp 900 juta sehingga tidak jadi.

Apa yang sudah dilakukan Departemen Kesehatan untuk autisme?

Mungkin belum terpikir ke sana karena seperti yang tadi saya katakan, di Indonesia itu masih lebih banyak sekali penyakit yang bisa berakibat fatal. Jadi kasus autisme yang dinilai tidak fatal kurang mendapat perhatian. Tapi seperti yang saya katakan tadi ini bom waktu karena jumlahnya makin tinggi.

Jika pembaca melihat anak-anak mereka ada gejala awal autisme, kemana mereka harus mencari informasi terlebih dahulu, terutama di daerah?

Informasi awal bisa membuka website YAI http://www.autisme.or.id. Di sana ada banyak informasi dan ada suatu kolom yang bisa menghubungi kami untuk tanya jawab. Jadi apa saja yang mereka tanyakan akan dijawab.

Apakah ada hotlinenya seandainya mereka menginginkan komunikasi secara langsung?

Belum, karena sumber daya manusia (SDM) YAI sedikit sekali karena ini yayasan sosial sehingga semua orang yang ada di situ tidak dibayar. Semua orang di YAI, orang sibuk. Jadi kami sangat kekurangan SDM.

Kita kembali ke masalah autisme. Saya ingin sedikit spesifik terutama tentang penyebabnya. Apa yang harus dihindari terutama bagi orang tua yang kira-kira mempunyai latar belakang sejarah keluarga autisme agar anak-anak mereka terhindar dari autisme?

Itu pertanyaan yang bagus sekali, kebetulan kami mau mengadakan autisme ekspo 26-27 April 2008 di gedung Sucofindo. Semoga menteri kesehatan mau membukanya. Di situ ada bazzar, pameran anak-anak autis, kemudian diisi pertunjukan anak-anak yang sudah mulai sembuh. Setelah itu seminar bergulir terus. Salah satu yang mau dibahas adalah bagaimana meminimalkan risiko pada kehamilan berikutnya setelah anak yang pertama terdiagnosa sebagai anak yang autisme. Jadi semua akan dibahas di situ, termasuk perkembangan otak janin, di mana bahayanya, dan sebagainya.

Jadi sangat kompleks masalah autisme ini. Apa rumah sakit di Jakarta yang bisa menjadi rujukan?

Di RSCM ada klinik tumbuh kembang di bagian psikiatri anaknya. Ada juga di RS MMC Kuningan, RS Omni Medical Center, RS Pondok Indah, RS Fatmawati. Jadi banyak rumah sakit besar yang sudah mempunyai klinik tumbuh kembang dimana bisa terdeteksi gejala-gejala autisme sejak dini.

Apa pesan Anda kepada pembaca untuk menghindari gejala dini autisme?

Kenali secara dini autisme. Jika ada gejalanya cepat-cepat ditangani dan jangan ditunda-tunda. Jangan berpandangan mungkin bisa bicara setelah empat tahun, jangan begitu. Saat melihat ada gejala dini harus segera ditangani karena kalau sudah sedini mungkin ditangani masih bisa kembali ke jalur perkembangan yang normal.**

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Pusat terapi Anak Berkebutuhan Khusus

Kami telah hadir di pringsewu, sebuah pusat terapi bagi anak-anak berkebutuhan khusus :

Memberikan terapi komprehensif sesuai dengan kebutuhan / kondisi anak :

1. Applied Behavioral Analisys (ABA)
2. Terapi Okupasi (Occupational therapy)
3. Terapi Sensori Integrasi (Sensory integration)
4. Terapi Wicara (Speech Therapy)
5. Terapi Perilaku (Behavior Therapy)
6. Terapi Bermain (Playing Therapy)
7. Terapi Sosial (Social Therapy)
8. Terapi Visual (Visual Therapy) dan……..

Metoda terapi terbaru, hanya kami yang mampu melakukannya yaitu :

PATTERNING THERAPY by Glen Doman
(Terapi me “pola”kan gerakan )

Fasilitas yang disediakan :
1. Ruang terapi yang representatif
2. AC
3. Single class (Satu terapis vs satu siswa)
4. Playground
5. Konsultasi perkembangan anak
6. Tes psikologi
7. Terapis bersertifikat

Apakah putra-putri anda menunjukkan hal-hal sebagai berikut :

A. Perilaku Nonverbal
1. Menghindari kontak mata atau seolah-olah melihat orang lain.
2. Tidak mengkomunikasikan emosi atau minatnya melalui ekspresi wajah.
3. Bereaksi secara negatif terhadapkontak fisik

B. Relasi Dengan Sebayanya
1. Tidak bereaksi terhadap kehadiran teman sebayanya.
2. Tidak mengawali interaksi
3. Tidak memmbangun interaksi atau memelihara pertemanan

C. Berbagi Minat dan Kesenangan
1. Tidak menunjukkan kepedulian pada orang lain.
2. Menunjukkan minat yang terbatas dalam rutinitas sehari-hari.
3. Tidak berbagi kesenangan mengenai benda maupun aktivitas.

D. Timbal-Balik Sosial
1. Tidak mencium, memeluk, atau bersalaman dengan orang lain.
2. Tidak mengambil giliran ketika bermain permainan sederhana dengan orang lain.
3. Memilih untuk sendiri.

E. Bahasa Ekspresif
1. Tidak bicara secara spontan dengan orang lain.
2. Tidak menggunakan bahasa tubuh atau isyarat untuk berkomunikasi dengan orang lain.
3. Tidak mengkomunikasikan keinginan dan hasratnya melalui kata-kata maupun bahasa tubuh

F. Percakapan (hanya dinilai bila anak telah bicara)
1. idak mengawali bercakap-cakap dengan orang lain.
2. Tidak mampu menyapa (mis: ‘hallo’) atau mengucapkan kata-kata sosial lainnya (mis: ‘tolong’,‘terima kasih’).
3. Tidak menjawab pertanyaan yang disampaikan orang lain.

G. Bahasa Stereotip (hanya dinilai bila anak telah bicara)
1. Echolali (mis: mengulang apa yang didengar dan tidak
merespon secara wajar).
2. Perseverate (mis: mengulang kata yang sama terus menerus)
3. Menceritakan kata atau kalimat yang sering didengar baik dari televisi maupun radio.

H. Bermain Imaginatif
1. Tidak menunjukkan kemampuan bermain imajinatif yang wajar dan sesuai dengan tingkat perkembangan
2. Tidak bergabung dalam permainan bersama orang lain.
3. Menyediri atau memisahkan diri dari dari teman sebaya.

I. Bahasa Reseptif
1. Tidak mampu menunjuk anggota tubuh atau benda-benda yang umum bila ditanya.
2. Tidak merespon ketika diajak bicara.
3. Tidak merespon pertanyaan atau instruksi sederhana

J. Pola-pola Perilaku dan minat yang terbatas
1. Memilih melakukan aktivitas yang sama secara berulang- ulang.
2. Menjadi sangat terganggu bila aktivitas yang disukainya disela.
3. Menolak diarahkan minatnya pada hal yang lain.

J. Rutinitas atau ritual yang tidak fungsional
1. Menunjukkan ritual dan rutinitas yang tidak perlu.
2. Menjadi sangat terganggu bila tidak dapat melakukan rutinitas atau ritualnya.
3. Menolak untuk diarahkan pada aktivitas yang fungsional.

K. Gerakan Motor yang repetitif
1. Melambaikan, memutar jari tangan di depan wajah, dsb.
2. Gerakan motorik yang berulang-ulang semakin meningkat
ketika merasa terganggu.
3. Menolak diarahkan pada perilakuperilaku ya ng produktif.

L. Terpaku pada bagian-bagian tertentu dari suatu benda
1. Selalu meneliti bagian-bagian tertentu dari suatu benda.
2. Memanipulasi benda atau bagian-bagiannya secara berlebihan.
3. Menggunakan mainan secara terpisah sebagai ganti dari
bermain imaginatif.

Bila anda menemukan pada anak minimal 2 perilaku dari masing-masing bagian (dari A – L) maka sebaiknya anda segera berkonsultasi dengan ahli.

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.
Categories: Uncategorized | 1 Komentar

Blog di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.